Daftar Mobil Sejuta Umat yang Murah

Daftar Mobil Sejuta Umat yang Murah - Pabrikan asal Jepang ini percaya perubahan pasar memang akan terjadi, terutama seiring populernya mobil murah ramah lingkungan (LCGC). Akan tetapi, hal itu belum nampak dalam waktu dekat.

Presiden Direktur TAM Johnny Darmawan punya analisis sendiri. Dia menilai sasaran utama pembeli LCGC yakni pengguna sepeda motor, rupanya belum bersedia beralih ke mobil.

"Ini fundamental ya, ada faktor mereka masih lebih senang naik motor. Tapi itu satu faktor saja," ujarnya di Jakarta, Minggu (9/3).

Mobil low-MPV oleh pengamat industri otomotif selama ini kerap dijuluki kendaraan 'sejuta umat'. Popularitasnya sangat tinggi di Indonesia, sampai orang dari kalangan manapun terbiasa melihatnya lalu lalang di jalanan.

Kedigdayaan low-MPV di negara ini dimulai berkat SK Menteri Perindustrian No.168/M/SK/9/79 yang diterbitkan sebelum era 1980-an. Beleid ini intinya memberi keringanan pajak pada kendaraan minibus, bukannya Sedan. Mobil sedan pada zaman tersebut mayoritas diproduksi pabrikan Eropa, sedangkan kendaraan minibus saat itu rata-rata dibuat perusahaan Jepang.

Paket kebijakan otomotif pada 1993 juga dianggap sukses menciptakan dominasi Toyota Kijang, kendaraan sejuta umat pada masa jayanya. Saat itu Toyota dapat keringan pajak. Alasannya pabrikan ini sukses meningkatkan kandungan lokal dalam proses produksi mobil tersebut hingga 47 persen.

Faktor lain low-MPV populer dikarenakan penumpangnya muat banyak, bisa menampung 8 orang. Kapasitas itu membuat varian minibus digemari penduduk Indonesia yang memiliki kekerabatan tinggi. Mobilitas dengan kendaraan roda empat biasanya dilakukan bersama-sama keluarga.

Tren city car dengan kapasitas di bawah lima orang sebagai pesaing mobil MPV, baru muncul lima tahun belakangan. Itu seiring meningkatnya jumlah keluarga muda di kota-kota besar Indonesia.

Analisis masih ampuhnya mobil sejuta umat, terbukti dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Dari total penjualan sepanjang 2013, jenis low-MPV 4X2 menguasai 30,8 persen dari seluruh penjualan kendaraan roda empat di Indonesia. Ada 379.205 unit mobil sejuta umat dari pelbagai merek yang dibeli konsumen di Tanah Air.

Terlihat pula dari data Gaikindo, bahwa penjualan LCGC belum seheboh yang diperkirakan. Sepanjang tahun lalu, merek terkenal seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, ataupun Honda Brio Satya baru menguasai 4,16 persen pangsa pasar, atau setara 51.180 unit.

Perbedaan harga antara low MPV dan LCGC rupanya juga belum terlalu mempengaruhi minat konsumen. Rata-rata kendaraan sejuta umat biasa dibanderol di kisaran harga Rp 180-300 juta per mobil.

Rentang harga ini jauh di atas mobil murah yang dibanderol mulai Rp 90-an juta. Nyatanya, konsumen LCGC yang benar-benar baru pertama kali membeli mobil (new entry) hanya 20 persen. "Kita dari industri sepakat, LCGC baru benar-benar sukses kalau new entry bisa sampai 50 persen" kata Johnny soal indikator perubahan rezim mobil sejuta umat di masa mendatang.

Akan tetapi, Johnny yang juga aktif sebagai ketua Gaikindo memperkirakan akan ada tren perang harga di segmen low MPV tahun ini. Soalnya, masing-masing Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) ingin masuk dan merasakan kue manis pasar mobil sejuta umat.

Beberapa nama baru yang tahun ini meramaikan pasar low-MPV adalah Mazda VX, Honda Mobilio, serta Datsun Go. Johnny meyakini, rentang harga tidak mungkin dinaikkan, sehingga yang terjadi justru perang banting harga.

"Konsumen menurut saya akan diuntungkan, tapi dari Toyota, kita enggak bisa bermain tanpa diskon. Bohong saya kalau bilang (tak ikut diskon) hanya karena kami Toyota. Cuma kalau pesaing banting harga X ditambah alpha, kita banting sekian X saja," ungkapnya.

Dengan persaingan segmen low MPV akan semakin panas dan ketat, siapa deretan penguasa pasar mobil sejuta umat saat ini di Indonesia dan apa rahasianya?
Source : Merdeka.Com

0 komentar:

Posting Komentar